Minggu, 20 Mei 2012


CERITA-CERITA SI KABAYAN:
DARI KELISANAN PERTAMA KE KELISANAN KEDUA
oleh Memen Durachman
1. Pendahuluan
Cerita-cerita Si Kabayan pada awalnya hanya ada dalam tradisi
lisan. Apalagi pada masa itu kita belum mengenal tradisi tulis dan tradisi
cetak.
Pada masa itu orang hanya mengenal cerita Si Kabayan dari
tuturan lisan yang ditransmisikan dari individu ke individu. Transmisi itu
berlangsung secara vertikal maupun secara horizontal. Trasmisi secara
vertikal berlangsung antara dua generasi atau lebih. Sementara itu,
transmisi yang berlangsung secara horizontal terjadi di antara satu
generasi .
Baru kemudian kita menganal tradisi tulis dalam pengertian
naskah. Belum ditemukan Cerita Si Kabayan dalam tradisi tulis seperti
pada beberapa cerita pantun, wawacan, dan  sejenisnya. Mungkin tidak
akan ditemukan karna memang cerita Si Kabayan benar-benar merupakan
tradisi lisan.
Setelah orang sudah mengenal hurup latin, maka mulailah ceritacerita Si Kabayan itu ditulis dalam hurup latin, dicetak, dan diterbitkan.
Buku yang memuat cerita-cerita Si Kabayan  –bersama dengan cerita 2
lainnya- yang pertama adalah susunan C.M Pleyte (1912). Tahun 1932
Moh. Ambri menyadur cerita Si Kabayan –yang juga diduga saduran dari
karya Moliere (Rosidi, 1984: 27)- menjadi  Si Kabayan Jadi Dukun (Si
Kabayan Menjadi Dukun). Bagaimanapun, buku ini merupakan
transformasi dari cerita-cerita Si Kabayan secara bebas. Sejak itu, hingga
tahun 2005 berlangsung terus menerus transformasi cerita-cerita Si
Kabayan dalam tradisi tulis.
Tahun 1960-an akhir TVRI menayangkan film Si Kabayan. Film itu
adalah film yang pertama untuk Cerita Si Kabayan yang ditayangkan
melalui televisi. Tahun-tahun 1980-an akhir, Eddy D. Iskandar menulis
beberapa skenario film Si Kabayan yang ditayangakan tahun 1990-an
awal. Tahun 2003 Lativi menayangkan serial Mr Kabayan. Terakhir, tahun
2004 Indosiar menayangkan serial Si Kabayan Sang Penakluk.
Sejak tahun 1960-an akhir transformasi cerita Si Kabayan bukan
hanya pada tradisi tulis. Akan tetapi, transformasi itu berlangsung pula
pada tradisi kelisanan kedua berupa drama dan film.
Fenomena-fenomena tersebut memberikan kita pemahaman akan
beberapa hal. Pertama,  cerita-cerita Si Kabayan dalam tradisi lisan akan
tetap hidup sampai kapan pun. Kedua, cerita-cerita Si Kabayan mengalami
transforamasi tidak hanya pada tradisi tulis, tetapi juga pada tradisi
kelisanan kedua.  Ketiga, cerita-cerita Si Kabayan akan terus mengalami
transformasi sampai kapan pun.3
Fenomen-fenomena tersebut juga menyatakan cerita-cerita Si
Kabayan awalnya hidup dalam masyaratakat agraris yang salah satu
cirinya bersifat lisan. Akan tetapi, juga hidup dalam masyarakat industri
kemudian. Hal itu sesuai dengan perkembangan masyarakat yang terus
berubah. Walaupun demikian, masyarakat industri yang ada pun tidak
sepenuhnya meninggalkan ciri-ciri masyarakat agraris.
Persoalannya adalah: bagaimanakah karakteristik teks-teks ceritacerita Si Kabayan dalam tradisi lisan?. Bagaimana pula karakteritik teks
cerita-cerita Si Kabayan dalam tradisi tulis?. Bagaimana karakteristik teksteks Cerita Si Kabayan dalam tradisi kelisanan kedua?. Bagaimanakah
usaha mengembangkan Cerita Si Kabayan dalam ketiga tradisi tersebut.
Makalah pendek ini akan berusaha menjawab pertanyaanpertanyaan tadi. Oleh karena itulah, berturut-turut disajikan karakteristik
teks-teks Cerita Si Kabayan dalam ketiga tradis tersebut dan usaha
pengembangannya pada ketiga tradisi.
2. Cerita-cerita Si Kabayan dalam Tradisi Lisan
Berdasarkan penelitian yang sudah dilakukan (Durachman,  dkk:
2006) Cerita-cerita Si Kabayan  dalam tradis lisan memiliki beberapa
karakteristik. Karakteristik-karakteristik tersebut sebagai berikut.
Pertama, ada beberapa cerita-cerita Si Kabayan yang sudah klasik –
seperti  Si Kabayan Ngala Nangka (Si Kabayan Memetik Nangka) dan  Si 4
Kabayan Ngala Tutut (Si Kabayan Mengambil Siput)  demikian populernya
sehingga hampir semua penutur mengenalnya. Misalnya cerita Si Kabayan
Ngala Nangka dikenal di Kuningan juga di Garut. Hanya terdapat variasi
dari segi panjangnya cerita. Di Kuningan, cerita tersebut dituturkan
sangat panjang, lengkap, dan rinci dari satu kejadian ke kejadian
selanjutnya. Sementara di Garut, cerita itu dituturkan sangat singkat. Kita
tidak dapat mengatakan itu adalah versi daerah masing-masing karena
peneliti belum mencoba mengeceknya di daerah Garut/Kuningan yang
lain.
Kedua, pola-pola Cerita Si Kabayan pada tradisi lisan ada beberapa.
Pertama,  cerita yang memiliki pola Si Kabayan mendapat
perintah/dimintai pertolongan; kemudian Si Kabayan mengerjakannya
sesuai dengan tafsirnya sediri; Si Kabayan menjelaskan dan penjelasannya
membuat pihak lain terhenyak. Cerita yang memiliki pola seperti ini
adalah Cerita Si Kabayan Ngala Nangka dan Si Kabayan Ngala Tutut. Kedua,
pola ceritanya sebagai berikut. Si Kabayan menghadapi suatu kesulitan. Ia
mencari akal untuk memperdayai pihak lain dan keberhasilannya
“memperdaya‟ orang lain. Cerita seperti ini misalnya cerita-cerita  Si
Kabayan Mayar Hutang (Si Kabayan Membayar Utang).  Ketiga, Si Kabayan
mendapat kesulitan, ia melakukan sesuatu dengan  trial and error secara
berulang-ulang; pihak lain menyerah ketika „menghadapi‟ Si Kabayan.
Contoh cerita seperti ini adalah  Si Kabayan Neangan Jodo (Si Kabayan 5
Mencari Jodoh). Keempat adalah pola seperti: Si Kabayan menjalani sesuatu,
pihak lain keheranan mengapa demikian, Si Kabayan menjelaskan.
Contoh cerita semacam ini adalah Si Kabayan Nyorang Tanjakan (Si Kabayan
Menjalani Tanjakan).
Ketiga, ciri-ciri bahasa lisan sangat dominan pada Cerita Si
Kabayan. Terutama dominannya ciri bahasa lisan ini pada penggunaan
dialog. Hampir semua cerita Si Kabayan sangat didominasi dialog, apakah
cerita-cerita Si Kabayan yang berasal dari daerah Priangan (Jabar)
maupun yang berasal dari daerah Banten.
Keempat,  berkaitan dengan konteks penuturan cerita Si Kabayan.
Cerita-cerita Si Kabayan umumnya dituturkan dalam obrolan atau suatu
penjelas untuk melukiskan sesuatu, misalnya ketika sedang mengalami
soal keiklasan, guru mengaji mengambil ilustrasi cerita Si Kabayan Mencuri
Kelapa (Si Kabayan Maling Kalapa).  Jarang sekali orang secara sengaja
menuturkan cerita Si Kabayan misalnya untuk mengawali suatu acara
seperti cerita-cerita tokoh penyebaran agama Islam dalam tradisi ziarah.
Berkaitan dengan ini seringkali masih ada anggapan bahwa Si Kabayan
itu bodoh!
Kelima,  berkaitan dengan proses penciptaan cerita-cerita Si
Kabayan. Pada umumnya, cerita-cerita itu diciptakan secara spontan
ketika cerita-cerita itu dituturkan. Namun, dasar spontanitas penciptaan
cerita Si Kabayan adalah skema sesuai pendapat Sweeney (1980: 39-40) 6
bahwa penciptaan dalam masyarakat tradisional Melayu bersifat
skematik.
Keenam, berkaitan dengan makna cerita-cerita Si Kabayan. Pada
umumnya, cerita-cerita Si Kabayan lebih besifat simbolik. Ini yang belum
banyak dipahami masyarakat Sunda umunya. Masyarakat selama ini
lebih banyak memahami cerita-ceria Si Kabayan hanya dari segi denotasi.
Masyarakat sering melihat cerita-cerita Si Kabayan bukan sebagai allegori.
Ketujuh, cerita-cerita Si Kabayan adalah umumnya sebagai
pengesahan kebudayaan tertentu. Artinya, cerita-cerita Si Kabayan seolaholah memberi legitimasi tertentu. Fungsi lainnya lebih ke fungsi memaksa
berlakukanya norma-norama sosial dan alat pengendali sosial. Fungsi
lainnya umumnya fungsi didaktis dan fungsi hiburan.
Karakteristik teks-teks Cerita Si Kabayan  dalam tradisi lisan
berkaitan erat dengan ciri-ciri masyarakat agraris. Masyarakat agraris
cenderung kolektif dan tidak individualis. Namun juga cenderung tidak
menghargai perbedaan. Padahal banyak cerita Si Kabayan yang lebih
individual dan dalam kaitannya dengan kehidupan bermasyarakat.
Misalnya cerita Si Kabayan Jajan Sirop (Si Kabayan Jajan Es Sirop).7
3. Cerita Si Kabayan dalam Tradisi Tulis
Transformasi cerita Si Kabayan ke dalam teks-teks tulis memiliki
beberapa karakteristik. Secara spesifik karakteristik-karakteristiknya
sebagai berikut.
Pertama, pada umunya teks-teks Cerita Si Kabayan pada tradisi
tulis (cerita dalam kumpulan tertentu, komik, cerpen) memiliki struktur
yang sederhana tidak terlalu beda dengan strukturnya dalam tradisi lisan.
Kecuali pada cerpen “Guali-guil” karya Godi Suwarna. Strukturnya
kompleks tidak seperti dongeng, tapi mendekati kompleksitas sebuah
cerpen dalam tradisi sastra modern.
Kedua, transformasi yang terjadi lebih pada perluasan hipogram
atau ekspansi. Artinya, teks-teks cerita Si Kabayan dalam tradisi tulis
umumnya hanya perluasan salah satu unsur atau beberapa unsur teks.
Kecuali, pada cerpen “Gual-guil” Godi Suwarna tadi. Pada cerpen
tersebut terjadi pemutarbalikan hipogram. Si Kabayan yang dalam tradisi
lisan digambarkan euweuh kahayang (tidak memiliki ambisi). Pada teks ini
digambarkan sangat serakah. Begitu pula dengan yang terjadi pada cerita
Ulah Kabayan. Pada cerita ini pun terjadi pemutarbalikan hipogram. Si
Kabayan yang dalam tradisi lisan selalu „menang‟ atau  „dimenangkan‟,
pada cerita ini Si Kabayan mendapat hukuman dari Abah karena telah
„memperdaya‟ Abah.8
Pada umumnya, transformasi cerita-cerita Si Kabayan dari tradisi
lisan kedalam tradisi tulis memiliki dua sifat bila ditinjau dari segi
keterikatannya dengan hipogramnya. Pertama, teks-teks yang merupakan
transformasi terikat. Artinya, teks tersebut hanya semacam
penulisan/transkripsi dari cerita lisan. Namun, teks-teks semacam itu
tetap harus dipandang sebagai teks-teks transformasi.  Kedua, teks-teks
yang merupakan transformasi bebas. Artinya, teks-teks yang menjadikan
teks-teks Cerita Si Kabayan dalam tradisi lisan hanya sebagai sumber atau
dasar penciptaan. Ini lazim dilakukan oleh para sastrawan dalam sastra
Sunda modern seperti Godi Suwarna atau dalam sastra Indonesia modern
seperti Seno Gumira Ajidarma, Yanusa Nugroho, Danarto, dan Sapardi
Djoko Darmono.
Ketiga,  berkaitan dengan proses penciptaanya. Pada umumnya
teks-teks Cerita Si Kabayan dalam tradisi lisan menjadi skema penciptaan
teks-teks Cerita Si  Kabayan dalam tradisi tulis. Artinya, dasar
penciptaannya adalah skema cerita yang telah mereka miliki secara
intuitif.
Keempat, berkaitan dengan makna cerita. Dalam tradisi teks tulis
tampaknya sudah disadari bahwa cerita-cerita Si Kabayan adalah allegori.
Masyarakat sudah memperlakukan teks-teks Cerita Si Kabayan dalam
tradisi tulis sebagai metafora panjang. Oleh karena itu, tidak timbul protes
dari masyarakat pembaca ketika Yus R. Ismail (2004) menulis cerita  “Si 9
Kabayan Jadi Sufi” atau Akhdiat K. Mihardja menulis  “Si Kabayan
Menyamar jadi Haji”.
Kelima, berkaitan dengan fungsi Cerita Si Kabayan. Pada umumnya
Cerita Si Kabayan dalam tradisi tulis lebih berfungsi sebagai alat
pendidikan/didaktis. Selain itu umunya berfungsi sebagai hiburan. Akan
tetapi, cerpen “Gual-guil” memiliki fungsi memprotes ketidakadilan
dalam masyarakat yang berkaitan dengan penyalahgunaan kekuasaan
secara sewenang-wenang.
Walaupun demikian, berkembangnya teks-teks cerita Si Kabayan
dalam tradisi tulis tidak menyebabkan cerita-cerita Si Kabayan dalam
tradisi lisan mati. Kedua tradisi itu hidup dan berkembang bersama-sama
secara simultan. Ini tampaknya menggambarkan bahwa masyarakat kita
belum sepenuhnya berada pada tahap keberaksaraan yang mantap.
sekalipun demikian, hal ini juga menunjukkan kedua tradisi akan hidup
bersama-sama apalagi pada masyarakat seperti Indonesia.
4. Cerita-cerita Si Kabayan dalam Tradisi Kelisanan Kedua
Teks-teks Si Kabayan dalam tradisi kelisanan kedua  -tradisi
kelisanan yang kedua yang dimaksud adalah drama dan film- memiliki
beberapa karakteristik. Karakteristik-karakteristik tersebut sebagai
berikut.10
Pertama, seperti namanya tradisi kelisanan kedua, maka ciri yang
menonjol dari teks-teks Si Kabayan dalam tradisi ini adalah
kuatnya/dominannya dialog. Terutama, kaitannya dalam dialog antara Si
Kabayan dengan tokoh-tokoh lain.
Kedua, dari segi struktur cerita umumnya sederhana seperti ceritacerita Si Kabayan dalam tradisi lisan. Transformasi yang terjadi lebih
merupakan perluasan hipogram yaitu terutama perluasan watak dan
perilaku Si Kabayan dalam memecahkan persoalan-persoalan yang
dihadapinya.
Ketiga, karakteristik yang menonjol dari tradisi ini adalah tokoh Si
Kabayan selalu „menang‟ atau „dimenangkan‟ seperti dalam tradisi
awalnya. Apalagi misalnya dalam film  Si Kabayan dan Bola Cinta, Si
Kabayan „menang‟ atas „komfrontasinya‟ dengan Abah. Itu terjadi karena
ia memiliki kartu truf, yaitu ia tahu bagaimana usaha Abah menjadi cinta
dengan Bu Juju, janda muda yang berjualan di ujung kampung.
Keempat, berkaitan dengan konteks „penuturan‟ film ini. Film ini
menggunakan bahasa Indonesia. Audiens film ini dan film-film Si
Kabayan lainnya tidak terbatas pada orang Sunda  –seperti ditunjukan
oleh teks-teks Si Kabayan yang berbahasa Sunda– melainkan semua orang
yang bisa memahami bahasa Indonesia. Oleh karena itu, publik teks-teks
cerita Si Kabayan tidak lagi terbatas pada orang Sunda, melainkan pada
siapa pun yang mampu memahami bahasa Indonesia.11
Kelima, berkaitan dengan makna-makna cerita-cerita Si Kabayan.
Tampaknya tradisi simbolik diteruskan dalam tradisi kelisanan kedua ini.
Hanya, umumnya lebih „cair‟ karena mempertimbangkan publik yang
lebih luas, baik dari segi wilayah maupun keragaman publik.
Keenam, berkenaan dengan persoalan proses penciptaannya.
Bagaimanapun  skema cerita-cerita Si Kabayan yang ada dalam repertoar
para penulis skenario atau naskah drama mendasari proses
penciptaannya. Artinya, skema cerita Si Kabayan yang sudah dimiliki
secara intuitif ini jadi dasar bagi mereka dalam kreativitasnya menulis
naskah drama/skenario film.
5. Beberapa Persoalan
Tradisi melisankan cerita-cerita Si Kabayan tidak menghadapi
persoalan dengan kehadiran tradisi tulis, apalagi dengan tradisi kelisanan
kedua. Persoalan muncul justru berkenaan dengan bagaimana
menjadikan tiga tradisi ini secara simultan bersama–sama menciptakan
harmoni. Dengan demikian, ketiga tradisi itu hidup secara harmonis
bersama-sama.
Si Kabayan dalam tradisi lisan tetap hidup. Transformasi teks-teks
Si Kabayan ke dalam tradisi tulis akan terus berlangsung sejalan dengan
minat masyarakat terhadap cerita-cerita Si Kabayan. Demikian pula
transformasi cerita-cerita Si Kabayan ke dalam tradisi kelisanan kedua.12
Yang jadi persoalan adalah makin langkanya orang/penutur yang
dapat menuturkan cerita-cerita Si Kabayan dalam masyarakat luas.
Mengapa demikian? Karena proses transmisi kelisanan tidak berlangsung
alamiah dan wajar. Sekalipun demikian, harus ada upaya sistematis untuk
menciptakan proses transmisi kelisanan itu alamiah dan wajar.
Di dalam masyarakat Sunda yang agraris pun tradisi-tradisi lisan
sudah tidak berlangsung dengan baik proses transmisinya. Masyarakat
lebih „dimabukkan‟ oleh tontonan televisi (tradisi kelisanan kedua) yang
menyebabkan tradisi lisan tidak kokoh lagi. Apalagi tradisi tulis yang
belum mangakar kuat.
Artinya, sebenarnya  televisi atau media lainnya karena daya
jangkau dan efeknya yang luar biasa, bisa membantu „mengembangkan‟
tradisi lisan secara kreatif. Kasus yang bagus adalah bagaimana televisi
memblow up tradisi lenong Betawi. Tradisi itu tidak punah, tetapi makin
berkembang secara kreatif. Di samping itu, memang penggunaan bahasa
Betawi juga amat membantu karena telah dikenal lebih luas dibanding
bahasa daerah lain.13
6. Kesimpulan
Kajian singkat ini memiliki beberapa kesimpulan. Kesipulankesimpulan tersebut sebagai berikut.
Pertama, karakteristik teks-teks Si Kabayan dalam tradisi lisan
berkaitan dengan ciri-ciri masyarakat agraris. Salah satu ciri masyarakat
agararis yang sangat menonjol adalah lisan atau bersifat kelisanan.
Kedua, karakteristik teks-teks Si Kabayan dalam tradisi tulis tidak
sepenuhnya lepas dari ciri teks Si Kabayan dalam tradisi lisan. Di
dalamnya terdiri dari karakteristik teks-teks Si Kabayan dalam tradisi
lisan dan munculnya ciri teks cerita-cerita Si Kabayan dalam tradisi tulis,
antara lain ditandai oleh individualitas yang menonjol.
Ketiga, karakteristik teks-teks cerita-cerita Si Kabayan dalam tradisi
kelisanan kedua menunjukkan pengulangan karakteristik cerita Si
Kabayan dan tradisi lisan. Akan tetapi, karena tradisi kelisanan kedua
melibatkan media, maka karakteristiknya berkaitan dengan efek media
bagi masyarakat. Antara lain, dalam persoalan penyebarannya yang
massal dan luas.
Keempat, teks-teks cerita Si Kabayan memang dapat hidup
berdampingan secara baik dalam ketiga tradisi yaitu tradisi lisan, tradisi
tulis, tradisi kelisanan kedua. Untuk menjaga harmoni di antara ketiga
tradisi tersebut perlu upaya yang menyeluruh dan sistematis yang
memberi ruang pada masing-masing tradisi untuk hidup dan berkembang
secara simultan dengan tradisi lainnya. Ketiga tradisi itu bila „direkayasa‟ 14
secara menyeluruh dan sistematis bisa saling melengkapi. Upaya saling
melengkapi itu menjadi perekat yang dapat menumbuhkan ketiga tradisi
tersebut tumbuh dan berkembang secara kreatif dan wajar.
Daftar Pustaka
Aarne, Antti dan Stith Tohmson. 1964. The Types of the Folktale: A Classification
and bibliography.
Ambri, Moch. 1986: Si Kabayan Jadi Dukun. Bandung: Rahmat Cijulang.
Austin, J.L. 1965. How to Do ting Words. New York: Oxford University Press.
Al-Bustomy, Ahmad Gibson. 2004. “Si Kabayan,” dalam  Khazanah Pikiran
Rakyat 23 Oktober.
Barker, Chris. 2005. Cultural Studies: Teori dan Praktek. A.b. tim Kunci Cultural
Studies Centre. Yogyakarta: Bentang.
Barthes, Roland. 1972. Mythologies. a.b. Jonathan Cape. London: Vintage.
Brunvand, Jan Harol. 1968.  The Study of American Folklore: An Introduction.
New York: W.W. Norton & Co. Inc.
Citra, 2000. Si Kabayan: Cerita dari Sunda. Jakarta: Elex Media Menchandising.
Coster Wijsman, Lina Maria. 1929. Uilespiegel – Verhalen in Inodnesie in Het
Biezonder in de Soendalandaen. Disertasi pada Universitas Leiden.
Danandjaja, James. 1984.  Folklor Indonesia: Ilmu Gosip,Dongeng, dan lain-lain.
Jakarta: Grafiti Pers.
Dundes, Alan. 1965. The Study of Follore. New York: Prentice Hl, Inc.
Dundes, Alan. 1980.  Interpreting Folklor.  Bloomington: Indiana University
Press.
Durachman, Memen. 1999. “Kekuasaan Orang Tua Versus Kearifan Anak:
Analisis Cerita-cerita Si Kabayan “Makalah  Pilnas Hiski di  UNS
Solo.15
Durachman, Memen 2004. “Mitos Si Kabayan „Serakah‟ dalam Cerpen „GualGuil‟ Godi Suwarna, “Dalam Vismaia S. Damaianti, dkk,
Mendambakan Indonesia yang Literat: Esei-esei Bahasa Sastra,  dan
Pengajarannya Bandung: Jurusan Pendidikan dan Bahasa dan
Sastra Indonesia FPBS UPI.
Durachman, Memen, Ice Sutari, Sumiyadi, Yulianeta, Heri Isnaeni, dan Ade
Mulyana. 2006.  Laporan Penelitian: Cerita Si Kabayan: Transformasi,
Proses Penciptaan, Makna dan Fungsi. Bandung: Jurusan Pendidikan
dan Bahasa dan Sastra Indonesia FPBS UPI.
Ekajati, Edy S. 1994.  Kebudayaan Sunda: Suatu Perspektif Sejarah. Jakarta:
Pustaka Jaya.
Esten, Mursal. 1992.  Tradisi dan Moderitas dalam Sandiwara: Teks Sandiwara
„Cindua Mata‟ Karya Wisman Hadi dalam Hubungan dan Mitos
Minangkabau „Cindur Mata‟. Jakarta: Intermasa.
Etti R.S. 2005. “Guru Kabayan” dalam  Heulang nu Ngapak Bengbat: Antologi
Pengarang Paguyuban Sastra Suda (PPSS) Bandung: Kiblat.
Finnegan, Ruth. 1992. Oral Traditions and The Verbal Art: A Guide to Research
Prtachies. New York: Rout ledge.
Gerdi W.K. 1999a. Si Kabayan dan Iteung Tersayang. Jakarta: Grasindo.
Gerdi W.K  1999b.  Si Kabayan dan Iteung Yang Terlupakan: Pengantar Studi
Sastra Lisan. Surabaya. HISKI Jawa Timur.
Hutomo, Suripan Sadi. 1989. Mutiara tak Terlupakan. Surabaya: HISKI Cabang
Surabaya.
Huiziga, Johan. 1990.  Homo Ludens: Fungsi dan Hekekat Permainan dalam
Budaya. Ab. Hasan Basari. Jakarta: LP3ES.
Ismail Yus R. 2004a.  Si Kabayan Jadi Sufi I. Bandung: Girimukti Pusaka.
Ismail Yus R. 2004b. Si Kabayan Menjadi Ustadz. Bandung: Pustaka Latifah
Ismail Yus R. 2004c. Si Kabayan Memancing Siput.  Bandung: Pustaka Latifah
Ismail Yus R. 2004d.  Si Kabayan Memetik Buah Nangka.  Bandung: Pustaka
Latifah.16
Ismail Yus R. 2004e.  Si Kabayan di Bawah Pohon Rindang. Bandung: Pustaka
Latifah.
Ismail Yus R. 2004f. Si Kabayan Disemangati Zaman. Dalam  Pikiran Rakyat 14
Februari.
Iskandar, Edy D. dan Min Resmana. 1988.  Si Kabayan Saba Kota.  Naskah
Skenario Film.
Iskandar, Edi D. 1999a. Si Kabayan Saba Kota 2. Naskah Skenario Film.
Iskandar, Edi D. 1999b. Si Kabayan Saba Metropolitan. Naskah Skenario Film.
Iskandar, Edi D. Tanpa Tahun.  Si Kabayan dan Anak Jin.  Naskah Skenario
Film.
Iskandar, Edi D. Tanpa Tahun. Si Kabayan Bola Cinta. Naskah Skenario Film.
Iskandar, Edi D. 1999c. Si Kabayan Saingan Abah. Naskah Skenario Film.
Indosiar. 2004. Serial Si Kabayan Sang Penakluk. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa
dan Pustaka.
Kartini, Tini. 1990. Jurig Kabayan. Bandung: Rahmah Cijulang.
Kenel, Mustafa. 2001. Nasrudin Hoja dan Si Kabayan: Sebuah Analisis Komparatif.
Skripsi pada Fakultas Sastra UI Depok.
Lativi. 2003. Serial Mr. Kabayan. Jakarta: Lativi.
Mihardja, Achdiat K. 1974. “Dongeng-dongeng Si Kabayan” dalam  Cerita
Rakyat 4. Jakarta: Balai Pustaka.
Mihardja, Achdiat K. 1997. Si Kabayan Manusia Lucu. Jakarta: Grasindo.
Mihardja, Achdiat K. 2005.  Si Kabayan Nongol di Zaman Jepang. Jakarta:
Grasindo.
Moriyama. Mikihiro. 2005. Semangat Baru: Kolonialisme, Sistem Percetakan dan
Kesustraan Sunda Abad Ke-19. Jakarta: KPG.
Oeban, Bambang. 2000a. Seri Kabayan: Pesta Daging Rusa. Jakarta: Gramedia.
Oeban, Bambang. 2000b.  Seri Kabayan Model Rambut Ala Tuyul. Jakarta:
Gramedia.
Oeban, Bambang. 2000c.  Seri Kabayan Ayam Untuk Bapak Gubernur. Jakarta:
Gramedia.17
Ong, Walter J. 1982. Orality and Literacy: The Technologizing of The World. New
York: Methoven.
Prahmanati, Santi. 1980. Si Kabayan Utuy Tatang Sontani. Skripsi pada FSUI.
Pudentia, MPSS. 1992. Transformasi Sastra: Analisis Atas Cerita Rakyat Lutung
Kasarung. Jakarta: Balai Pustaka.
Pedentia, MPSS. (Ed.). 1998. Metodologi Kajian Tradisi Lisan. Jakarta: YOI dan
Yayasan ATL.
Remana, Min. 1995. Si Kabayan Tapa. Bandung: Rahmat Cijulang.
Riffatere, Michael. 1978.  Semiotic of Poetry.  Bloomington: Indiana University
Press.
Rosidi, Ajip. 1977.  Si Kabayan dan Beberapa Dongeng  Sunda lainnya. Jakarta:
Gunung Agung.
Rosidi, Ajip. 1984. Manusia Sunda: Sebuah Esay tentang Tokoh-tokoh dan Sejarah .
Jakarta: Idayu Press.
Rotoyati, Ottih. 1979. Si Kabayan: Sebuah Studi tentang Sistem Nilai Budaya dan
Sikap Hidup Masyarakat Sunda. Skripsi pada Fakultas Sastra Unpad.
Rotoyati, Ottih. 1983a. “Si Kabayan dalam Cerita Rakyat Sunda: Sebuah Studi
tentang Sistem Nilai Budaya,”  Pada Pikiran Rakyat”  25 dan 26
Januari.
Rotoyati, Ottih. 1983b. “Ihwal Tokoh Si Kabayan Orang Sunda: Telaah Ahli
Barat Tidak Relevan, “Pada Pikiran Rakyat 19 April.”
Rusyana, Yus. 1988a.  Pandangan Hidup Orang Sunda Seperti Tercermin dalam
Tradisi Lisan dan Sastra Sunda. Bandung: Depdikbud.
Rusyana, Yus. Dkk. 1988b.   Pandangan Hidup Orang Sunda Seperti Tercermin
dalam Kehidupan Masyarakat Dewasa Ini. Bandung: Depdikbud.
  1. Rusyana, Yus. Dkk. 2000.  Prosa Tradisional: Pengertian Klasifikasi, dan Teks.

Jakarta: Pusat Bahasa.
Searle John R. 1969. Spech Act. New York: Chambridge University Press.
Simanungkalit, Mathiyas Nahot. 2003.  Kabayan Saba Kota.  Skripsi pada
Sekolah Tinggi Teologi Jakarta.18
Sontani, Utuy T. 1957. “Kekayaan Batin Ki Sunda: Disagigireun Si Kabayan
Aya Sang Kuriang.” Dalam Kiwari., Th I No. 2 hal 57-82.
Sontani, Utuy T. 1963. Si Kabayan. Jakarta: Lekra.
Sumardjo, Jakob. Tanpa Tahun. “Si Kabayan” dalam Pikiran Rakyat.
Soekardi, Yuliadi, 2004a. Si Kabayan dan Bendo Ajaib. Bandung: Pustaka Setia.
Soekardi, Yuliadi, 2004b.  Si Kabayan Menangkap Maling.  Bandung: Pustaka
Setia.
Soekardi, Yuliadi, dan Usyahbudin. 2004.  Si  Kabayan Digugat.  Bandung:
Pustaka Setia.
Suwarna, Godi. 1985.  Murang-maring: Kumpulan Carita Pondok.  Bandung:
Medal Agung.
Sweeney, Amin. 1980.  Author and Audiences in Traditional Malay Literature.
Berkeley: University of California.
Teeuw, A. 1994.  Indonesian Antara Kelisanan dan Keberaksaraan. Jakarta:
Pustaka Jaya.
Thompson, Stith. 1946. The Folktale. New York: Holt, Rinehart and Winston,
Inc.
Wardiman, Iwan. 1997. Ulah Kabayan. Jakarta: Paryu Barkah Prantana.
Winardi, Irwan. 2004.  360 Cerita Jenaka Nasrudin Hoj.  Bandung: Pustaka
Hidayah.
Zaimar, Okke K.S. 2004. Teks dalam Pemahaman Multidimensi. Jakarta: FIB UI.

Pada jaman dahulu kala di rantau Mahakam, terdapat sebuah dusun yang didiami oleh beberapa keluarga. Mata pencaharian mereka kebanyakan adalah sebagai petani maupun nelayan. Setiap tahun setelah musim panen, penduduk dusun tersebut biasanya mengadakan pesta adat yang diisi dengan beraneka macam pertunjukan ketangkasan dan kesenian.

Ditengah masyarakat yang tinggal di dusun tersebut, terdapat suatu keluarga yang hidup rukun dan damai dalam sebuah pondok yang sederhana. Mereka terdiri dari sepasang suami-istri dan dua orang putra dan putri. Kebutuhan hidup mereka tidak terlalu sukar untuk dipenuhi karena mereka memiliki kebun yang ditanami berbagai jenis buah-buahan dan sayur-sayuran. Begitu pula segala macam kesulitan dapat diatasi dengan cara yang bijaksana, sehingga mereka hidup dengan bahagia selama bertahun-tahun.

Pada suatu ketika, sang ibu terserang oleh suatu penyakit. Walau telah diobati oleh beberapa orang tabib, namun sakit sang ibu tak kunjung sembuh pula hingga akhirnya ia meninggal dunia. Sepeninggal sang ibu, kehidupan keluarga ini mulai tak terurus lagi. Mereka larut dalam kesedihan yang mendalam karena kehilangan orang yang sangat mereka cintai. Sang ayah menjadi pendiam dan pemurung, sementara kedua anaknya selalu diliputi rasa bingung, tak tahu apa yang mesti dilakukan. Keadaan rumah dan kebun mereka kini sudah tak terawat lagi. Beberapa sesepuh desa telah mencoba menasehati sang ayah agar tidak larut dalam kesedihan, namun nasehat-nasehat mereka tak dapat memberikan perubahan padanya. Keadaan ini berlangsung cukup lama.

Suatu hari di dusun tersebut kembali diadakan pesta adat panen. Berbagai pertunjukan dan hiburan kembali digelar. Dalam suatu pertunjukan ketangkasan, terdapatlah seorang gadis yang cantik dan mempesona sehingga selalu mendapat sambutan pemuda-pemuda dusun tersebut bila ia beraksi. Mendengar berita yang demikian itu, tergugah juga hati sang ayah untuk turut menyaksikan bagaimana kehebatan pertunjukan yang begitu dipuji-puji penduduk dusun hingga banyak pemuda yang tergila-gila dibuatnya.

Malam itu adalah malam ketujuh dari acara keramaian yang dilangsungkan. Perlahan-lahan sang ayah berjalan mendekati tempat pertunjukan dimana gadis itu akan bermain. Sengaja ia berdiri di depan agar dapat dengan jelas menyaksikan permainan serta wajah sang gadis. Akhirnya pertunjukan pun dimulai. Berbeda dengan penonton lainnya, sang ayah tidak banyak tertawa geli atau memuji-muji penampilan sang gadis. Walau demikian sekali-sekali ada juga sang ayah tersenyum kecil. Sang gadis melemparkan senyum manisnya kepada para penonton yang memujinya maupun yang menggodanya. Suatu saat, akhirnya bertemu jua pandangan antara si gadis dan sang ayah tadi. Kejadian ini berulang beberapa kali, dan tidak lah diperkirakan sama sekali kiranya bahwa terjalin rasa cinta antara sang gadis dengan sang ayah dari dua orang anak tersebut.

Demikianlah keadaannya, atas persetujuan kedua belah pihak dan restu dari para sesepuh maka dilangsungkanlah pernikahan antara mereka setelah pesta adat di dusun tersebut usai. Dan berakhir pula lah kemuraman keluarga tersebut, kini mulailah mereka menyusun hidup baru. Mereka mulai mengerjakan kegiatan-kegiatan yang dahulunya tidak mereka usahakan lagi. Sang ayah kembali rajin berladang dengan dibantu kedua anaknya, sementara sang ibu tiri tinggal di rumah menyiapkan makanan bagi mereka sekeluarga. Begitulah seterusnya sampai berbulan-bulan lamanya hingga kehidupan mereka cerah kembali.

Dalam keadaan yang demikian, tidak lah diduga sama sekali ternyata sang ibu baru tersebut lama kelamaan memiliki sifat yang kurang baik terhadap kedua anak tirinya. Kedua anak itu baru diberi makan setelah ada sisa makanan dari ayahnya. Sang ayah hanya dapat memaklumi perbuatan istrinya itu, tak dapat berbuat apa-apa karena dia sangat mencintainya. Akhirnya, seluruh rumah tangga diatur dan berada ditangan sang istri muda yang serakah tersebut. Kedua orang anak tirinya disuruh bekerja keras setiap hari tanpa mengenal lelah dan bahkan disuruh mengerjakan hal-hal yang diluar kemampuan mereka.

Pada suatu ketika, sang ibu tiri telah membuat suatu rencana jahat. Ia menyuruh kedua anak tirinya untuk mencari kayu bakar di hutan.
"Kalian berdua hari ini harus mencari kayu bakar lagi!" perintah sang ibu, "Jumlahnya harus tiga kali lebih banyak dari yang kalian peroleh kemarin. Dan ingat! Jangan pulang sebelum kayunya banyak dikumpulkan. Mengerti?!"
"Tapi, Bu..." jawab anak lelakinya, "Untuk apa kayu sebanyak itu...? Kayu yang ada saja masih cukup banyak. Nanti kalau sudah hampir habis, barulah kami mencarinya lagi..."
"Apa?! Kalian sudah berani membantah ya?! Nanti kulaporkan ke ayahmu bahwa kalian pemalas! Ayo, berangkat sekarang juga!!" kata si ibu tiri dengan marahnya.

Anak tirinya yang perempuan kemudian menarik tangan kakaknya untuk segera pergi. Ia tahu bahwa ayahnya telah dipengaruhi sang ibu tiri, jadi sia-sia saja untuk membantah karena tetap akan dipersalahkan jua. Setelah membawa beberapa perlengkapan, berangkatlah mereka menuju hutan. Hingga senja menjelang, kayu yang dikumpulkan belum mencukupi seperti yang diminta ibu tiri mereka. Terpaksa lah mereka harus bermalam di hutan dalam sebuah bekas pondok seseorang agar dapat meneruskan pekerjaan mereka esok harinya. Hampir tengah malam barulah mereka dapat terlelap walau rasa lapar masih membelit perut mereka.

Esok paginya, mereka pun mulai mengumpulkan kayu sebanyak-banyaknya. Menjelang tengah hari, rasa lapar pun tak tertahankan lagi, akhirnya mereka tergeletak di tanah selama beberapa saat. Dan tanpa mereka ketahui, seorang kakek tua datang menghampiri mereka.
"Apa yang kalian lakukan disini, anak-anak?!" tanya kakek itu kepada mereka.
Kedua anak yang malang tersebut lalu menceritakan semuanya, termasuk tingkah ibu tiri mereka dan keadaan mereka yang belum makan nasi sejak kemarin hingga rasanya tak sanggup lagi untuk meneruskan pekerjaan.
"Kalau begitu..., pergilah kalian ke arah sana." kata si kakek sambil menunjuk ke arah rimbunan belukar, "Disitu banyak terdapat pohon buah-buahan. Makanlah sepuas-puasnya sampai kenyang. Tapi ingat, janganlah dicari lagi esok harinya karena akan sia-sia saja. Pergilah sekarang juga!"

Sambil mengucapkan terima kasih, kedua kakak beradik tersebut bergegas menuju ke tempat yang dimaksud. Ternyata benar apa yang diucapkan kakek tadi, disana banyak terdapat beraneka macam pohon buah-buahan. Buah durian, nangka, cempedak, wanyi, mangga dan pepaya yang telah masak tampak berserakan di tanah. Buah-buahan lain seperti pisang, rambutan dan kelapa gading nampak bergantungan di pohonnya. Mereka kemudian memakan buah-buahan tersebut hingga kenyang dan badan terasa segar kembali. Setelah beristirahat beberapa saat, mereka dapat kembali melanjutkan pekerjaan mengumpulkan kayu hingga sesuai dengan yang diminta sang ibu tiri.

Menjelang sore, sedikit demi sedikit kayu yang jumlahnya banyak itu berhasil diangsur semuanya ke rumah. Mereka kemudian menyusun kayu-kayu tersebut tanpa memperhatikan keadaan rumah. Setelah tuntas, barulah mereka naik ke rumah untuk melapor kepada sang ibu tiri, namun alangkah terkejutnya mereka ketika melihat isi rumah yang telah kosong melompong.

Ternyata ayah dan ibu tiri mereka telah pergi meninggalkan rumah itu. Seluruh harta benda didalam rumah tersebut telah habis dibawa serta, ini berarti mereka pergi dan tak akan kembali lagi ke rumah itu. Kedua kakak beradik yang malang itu kemudian menangis sejadi-jadinya. Mendengar tangisan keduanya, berdatanganlah tetangga sekitarnya untuk mengetahui apa gerangan yang terjadi. Mereka terkejut setelah mengetahui bahwa kedua ayah dan ibu tiri anak-anak tersebut telah pindah secara diam-diam.

Esok harinya, kedua anak tersebut bersikeras untuk mencari orangtuanya. Mereka memberitahukan rencana tersebut kepada tetangga terdekat. Beberapa tetangga yang iba kemudian menukar kayu bakar dengan bekal bahan makanan bagi perjalanan kedua anak itu. Menjelang tengah hari, berangkatlah keduanya mencari ayah dan ibu tiri mereka.

Telah dua hari mereka berjalan namun orangtua mereka belum juga dijumpai, sementara perbekalan makanan sudah habis. Pada hari yang ketiga, sampailah mereka di suatu daerah yang berbukit dan tampaklah oleh mereka asap api mengepul di kejauhan. Mereka segera menuju ke arah tempat itu sekedar bertanya kepada penghuninya barangkali mengetahui atau melihat kedua orangtua mereka.

Mereka akhirnya menjumpai sebuah pondok yang sudah reot. Tampak seorang kakek tua sedang duduk-duduk didepan pondok tersebut. Kedua kakak beradik itu lalu memberi hormat kepada sang kakek tua dan memberi salam.
"Dari mana kalian ini? Apa maksud kalian hingga datang ke tempat saya yang jauh terpencil ini?" tanya sang kakek sambil sesekali terbatuk-batuk kecil.
"Maaf, Tok." kata si anak lelaki, "Kami ini sedang mencari kedua urangtuha kami. Apakah Datok pernah melihat seorang laki-laki dan seorang perempuan yang masih muda lewat disini?"
Sang kakek terdiam sebentar sambil mengernyitkan keningnya, tampaknya ia sedang berusaha keras untuk mengingat-ingat sesuatu.
"Hmmm..., beberapa hari yang lalu memang ada sepasang suami-istri yang datang kesini." kata si kakek kemudian, "Mereka banyak sekali membawa barang. Apakah mereka itu yang kalian cari?"
"Tak salah lagi, Tok." kata anak lelaki itu dengan gembira, "Mereka pasti urangtuha kami! Ke arah mana mereka pergi, Tok?"
"Waktu itu mereka meminjam perahuku untuk menyeberangi sungai. Mereka bilang, mereka ingin menetap diseberang sana dan hendak membuat sebuah pondok dan perkebunan baru. Cobalah kalian cari di seberang sana."
"Terima kasih, Tok..." kata si anak sulung tersebut, "Tapi..., bisakah Datok mengantarkan kami ke seberang sungai?"
"Datok ni dah tuha... mana kuat lagi untuk mendayung perahu!" kata si kakek sambil terkekeh, "Kalau kalian ingin menyusul mereka, pakai sajalah perahuku yang ada ditepi sungai itu."

Kakak beradik itu pun memberanikan diri untuk membawa perahu si kakek. Mereka berjanji akan mengembalikan perahu tersebut jika telah berhasil menemukan kedua orangtua mereka. Setelah mengucapkan terima kasih, mereka lalu menaiki perahu dan mendayungnya menuju ke seberang. Keduanya lupa akan rasa lapar yang membelit perut mereka karena rasa gembira setelah mengetahui keberadaan orangtua mereka. Akhirnya mereka sampai di seberang dan menambatkan perahu tersebut dalam sebuah anak sungai. Setelah dua hari lamanya berjalan dengan perut kosong, barulah mereka menemui ujung sebuah dusun yang jarang sekali penduduknya.

Tampaklah oleh mereka sebuah pondok yang kelihatannya baru dibangun. Perlahan-lahan mereka mendekati pondok itu. Dengan perasaan cemas dan ragu si kakak menaiki tangga dan memanggil-manggil penghuninya, sementara si adik berjalan mengitari pondok hingga ia menemukan jemuran pakaian yang ada di belakang pondok. Ia pun teringat pada baju ayahnya yang pernah dijahitnya karena sobek terkait duri, setelah didekatinya maka yakinlah ia bahwa itu memang baju ayahnya. Segera ia berlari menghampiri kakaknya sambil menunjukkan baju sang ayah yang ditemukannya di belakang. Tanpa pikir panjang lagi mereka pun memasuki pondok dan ternyata pondok tersebut memang berisi barang-barang milik ayah mereka.

Rupanya orangtua mereka terburu-buru pergi, sehingga di dapur masih ada periuk yang diletakkan diatas api yang masih menyala. Didalam periuk tersebut ada nasi yang telah menjadi bubur. Karena lapar, si kakak akhirnya melahap nasi bubur yang masih panas tersebut sepuas-puasnya. Adiknya yang baru menyusul ke dapur menjadi terkejut melihat apa yang sedang dikerjakan kakaknya, segera ia menyambar periuk yang isinya tinggal sedikit itu. Karena takut tidak kebagian, ia langsung melahap nasi bubur tersebut sekaligus dengan periuknya.

Karena bubur yang dimakan tersebut masih panas maka suhu badan mereka pun menjadi naik tak terhingga. Dalam keadaan tak karuan demikian, keduanya berlari kesana kemari hendak mencari sungai. Setiap pohon pisang yang mereka temui di kiri-kanan jalan menuju sungai, secara bergantian mereka peluk sehingga pohon pisang tersebut menjadi layu. Begitu mereka tiba di tepi sungai, segeralah mereka terjun ke dalamnya. Hampir bersamaan dengan itu, penghuni pondok yang memang benar adalah orangtua kedua anak yang malang itu terheran-heran ketika melihat banyak pohon pisang di sekitar pondok mereka menjadi layu dan hangus.

Namun mereka sangat terkejut ketika masuk kedalam pondok dan mejumpai sebuah bungkusan dan dua buah mandau kepunyaan kedua anaknya. Sang istri terus memeriksa isi pondok hingga ke dapur, dan dia tak menemukan lagi periuk yang tadi ditinggalkannya. Ia kemudian melaporkan hal itu kepada suaminya. Mereka kemudian bergegas turun dari pondok dan mengikuti jalan menuju sungai yang di kiri-kanannya banyak terdapat pohon pisang yang telah layu dan hangus.

Sesampainya di tepi sungai, terlihatlah oleh mereka dua makhluk yang bergerak kesana kemari didalam air sambil menyemburkan air dari kepalanya. Pikiran sang suami teringat pada rentetan kejadian yang mungkin sekali ada hubungannya dengan keluarga. Ia terperanjat karena tiba-tiba istrinya sudah tidak ada disampingnya. Rupanya ia menghilang secara gaib. Kini sadarlah sang suami bahwa istrinya bukanlah keturunan manusia biasa. Semenjak perkawinan mereka, sang istri memang tidak pernah mau menceritakan asal usulnya.

Tak lama berselang, penduduk desa datang berbondong-bondong ke tepi sungai untuk menyaksikan keanehan yang baru saja terjadi. Dua ekor ikan yang kepalanya mirip dengan kepala manusia sedang bergerak kesana kemari ditengah sungai sambil sekali-sekali muncul di permukaan dan menyemburkan air dari kepalanya. Masyarakat yang berada di tempat itu memperkirakan bahwa air semburan kedua makhluk tersebut panas sehingga dapat menyebabkan ikan-ikan kecil mati jika terkena semburannya.

  1. Oleh masyarakat Kutai, ikan yang menyembur-nyemburkan air itu dinamakan ikan Pasut atau Pesut. Sementara masyarakat di pedalaman Mahakam menamakannya ikan Bawoi.

Sabtu, 19 Mei 2012

Endok nyien grup band


  • aya sakadang Endog keur ulin sabari leuleumpangan dijalan teh aya sakadang Eurih "sakadang Euerih urang nyieu grup band tina sasatoann grup band "ceuk Endog"hayu ,piraku duaan?"ceuk Eurih"engke pan sabari nyanyai bari neangan batur!"ceuk endog"hayuuuuuuuuu"ceuk erih sabari seri"tuluy lempang ka leweng aya pecang "woyyy?"ceuk erih sabari nga gorowok"naon sakadang erih?"ceuk pecang"nu tiluan etateh nya ranyi weh sabari lelem pangan"gorolong cekroh rekecek"terus etah nya ranyi sabari atoh"di jalan papang gih jeung sa kadang monyet"sa kadang moyet turun urang nyien grup band yuuuukkkk?ceuk pecang"hayuuuuuuuu,dagoan atuh?ceuk moyet sabari lumpat"sok mulai"ceuk moyet bari ji ga nu heeh"hayuu"ceuk endog" gorolong cekroh rekecek eh eh ke hela kumaha atuh"ceuk moyet"eh ari sia kumaha bisa te "ceuk erihh"ohhhh so kuring "ceuk  moyet"heeh belegug sia mah"ceuk erihh"sok"ceuk endog" gorolong cekroh rekecek uk"aya sakadang dogdog"heh sakadang dodog rekmiluan moal"ceuk endog"hayuuuuuuuuu"ceuk dogdog" gorolong cekroh rekecek uk dolog dog"rewa sen sakabeh sato nukeur nya ranyi aya sakadang kuda keur nonggeng"alah alah hey sakadang kuda eweh gawe maneh mah?  ceuk  moyet"urang bae atuh miluan?ceuk  kuda "ih bae pisan"ceuk pecang"sol mulay?ceuk dogdog" gorolong cekroh rekecek uk dolog dog reng kud reyeh  gorolong cekroh rekecek uk dolog dog  gorolong cekroh rekecek uk dolog dog " aya tai keur ngam bang na cai di sa da nateh plak plak"dey sakadang tai rek miluan"ceuk endog"ih ari maneh tegeleh atuh"ceuk  moyet"ih ari maneh ulah sok ki tu pamali"ceuk endog"sok"ceuk erihh"gorolong cekroh rekecek uk dolog dog reng kud reyeh plak plak blug" eh aya naon eta jadi alus naya"ceuk endog"heeh naha"ceuk erih"teang teang"ceuk  tai"terus nya ranyi gorolong cekroh rekecek uk dolog dog reng kud reyeh plak plak  blug"  aya dei beki deket nya?ceuk  moyet"eta kalapa"ceuk dogdog"hey tang kal kalapa rek miluan hayu"ceuk endog"hayuuuu"ceuk kalapa"sok mulai"ceuk dogdog" gorolong cekroh rekecek uk dolog dog reng kud reyeh plak plak  blug  gorolong cekroh rekecek uk dolog dog reng kud reyeh plak plak  blug  gorolong cekroh rekecek uk dolog dog reng kud reyeh plak plak  blug jadi juara ka hiji tina sasatoan

Jumat, 18 Mei 2012

Hari-hari Akhir Si Pitung


Betawi Oktober 1893. Rakyat Betawi di kampung-kampung tengah berkabung. Dari mulut ke mulut mereka mendengar Si Pitung atau Bang Pitung meninggal dunia, setelah tertembak dalam pertarungan tidak seimbang dengan kompeni. Bagi warga Betawi, kematian Si Pitung merupakan duka mendalam. Karena ia membela rakyat kecil yang mengalami penindasan pada masa penjajahan Belanda. Sebaliknya, bagi kompeni sebutan untuk pemerintah kolonial Belanda pada masa itu, dia dilukiskan sebagai penjahat, pengacau, perampok, dan entah apa lagi.

Jagoan kelahiran Rawa Belong, Jakarta Barat, ini telah membuat repot pemerintah kolonial di Batavia, termasuk gubernur jenderal. Karena Bang Pitung merupakan potensi ancaman keamanan dan ketertiban hingga berbagai macam strategi dilakukan pemerintah Hindia Belanda untuk menangkapnya hidup atau mati. Pokoknya Pitung ditetapkan sebagai orang yang kudu dicari dengan status penjahat kelas wahid di Betawi.

Bagaimana Belanda tidak gelisah, dalam melakukan aksinya membela rakyat kecil Bang Pitung berdiri di barisan depan. Kala itu Belanda memberlakukan kerja paksa terhadap pribumi termasuk “turun tikus”. Dalam gerakan ini rakyat dikerahkan membasmi tikus di sawah-sawah disamping belasan kerja paksa lainnya. Belum lagi blasting (pajak) yang sangat memberatkan petani oleh para tuan tanah.

Si Pitung, yang sudah bertahun-tahun menjadi incaran Belanda, berdasarkan cerita rakyat, mati setelah ditembak dengan peluru emas oleh schout van Hinne dalam suatu penggerebekan karena ada yang mengkhianati dengan memberi tahu tempat persembunyiannya. Ia ditembak dengan peluru emas oleh schout (setara Kapolres) van Hinne karena dikabarkan kebal dengan peluru biasa. Begitu takutnya penjajah terhadap Bang Pitung, sampai tempat ia dimakamkan dirahasiakan. Takut jago silat yang menjadi idola rakyat kecil ini akan menjadi pujaan.

Si Pitung, berdasarkan cerita rakyat (folklore) yang masih hidup di masyarakat Betawi, sejak kecil belajar mengaji di langgar (mushala) di kampung Rawa Belong. Dia, menurut istilah Betawi, “orang yang denger kate”. Dia juga “terang hati”, cakep menangkap pelajaran agama yang diberikan ustadznya, sampai mampu membaca (tilawat) Alquran. Selain belajar agama, dengan H Naipin, Pitung –seperti warga Betawi lainnya–, juga belajar ilmu silat. H Naipin, juga guru tarekat dan ahli maen pukulan.

Suatu ketika di usia remaja sekitar 16-17 tahun, oleh ayahnya Pitung disuruh menjual kambing ke Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Dari kediamannya di Rawa Belong dia membawa lima ekor kambing naik gerobak. Ketika dagangannya habis dan hendak pulang, Pitung dibegal oleh beberapa penjahat pasar. Mulai saat itu, dia tidak berani pulang ke rumah. Dia tidur di langgar dan kadang-kadang di kediaman gurunya H Naipan. Ini sesuai dengan tekadnya tidak akan pulang sebelum berhasil menemukan hasil jualan kambing. Dia merasa bersalah kepada orangtuanya. Dengan tekadnya itu, dia makin memperdalam ilmu maen pukulan dan ilmu tarekat. Ilmu pukulannya bernama aliran syahbandar. Kemudian Pitung melakukan meditasi alias tapa dengan tahapan berpuasa 40 hari. Kemudian melakukan ngumbara atau perjalanan guna menguji ilmunya. Ngumbara dilakukan ke tempat-tempat yang “menyeramkan” yang pasti akan berhadapan dengan begal.

Salah satu ilmu kesaktian yang dipelajari Bang Pitung disebut Rawa Rontek. Gabungan antara tarekat Islam dan jampe-jampe Betawi. Dengan menguasai ilmu ini Bang Pitung dapat menyerap energi lawan-lawannya. Seolah-olah lawan-lawannya itu tidak melihat keberadaan Bang Pitung. Karena itu dia digambarkan seolah-olah dapat menghilang. Menurut cerita rakyat, dengan ilmu kesaktian rawa rontek-nya itu, Bang Pitung tidak boleh menikah. Karena sampai hayatnya ketika ia tewas dalam menjelang usia 40 tahun Pitung masih tetap bujangan.

Si Pitung yang mendapat sebutan “Robinhood” Betawi, sekalipun tidak sama dengan “Robinhood” si jago panah dari hutan Sherwood, Inggris. Akan tetapi, setidaknya keduanya memiliki sifat yang sama: Selalu ingin membantu rakyat tertindas. Meskipun dari hasil rampokan terhadap kompeni dan para tuan tanah yang menindas rakyat kecil.

Sejauh ini, tokoh legendaris Si Pitung dilukiskan sebagai pahlawan yang gagah. Pemuda bertubuh kuat dan keren, sehingga menimbulkan rasa sungkan setiap orang yang berhadapan dengannya. Dalam film Si Pitung yang diperankan oleh Dicky Zulkarnaen, ia juga dilukiskan sebagai pemuda yang gagah dan bertubuh kekar. Tapi, menurut Tanu Trh dalam “Intisari” melukiskan berdasarkan penuturan ibunya dari cerita kakeknya, Pitung tidak sebesar dan segagah itu. ”Perawakannya kecil. Tampang Si Pitung sama sekali tidak menarik perhatian khalayak. Sikapnya pun tidak seperti jagoan. Kulit wajahnya kehitam-hitaman, dengan ciri yang khas sepasang cambang panjang tipis, dengan ujung melingkar ke depan.”

Menurut Tanu Trh, ketika berkunjung ke rumah kakeknya berdasarkan penuturan ibunya, Pitung pernah digerebek oleh schout van Hinne. Setelah seluruh isi rumah diperiksa ternyata petinggi polisi Belanda ini tidak menemukan Si Pitung. Setelah van Hinne pergi, barulah Si Pitung secara tiba-tiba muncul setelah bersembunyi di dapur. Karena belasan kali berhasil meloloskan diri dari incaran Belanda, tidak heran kalau Si Pitung diyakini banyak orang memiliki ilmu menghilang. ”Yang pasti,” kata ibu, seperti dituturkan Tanu Trh, ”dengan tubuhnya yang kecil Pitung sangat pandai menyembunyikan diri dan bisa menyelinap di sudut-sudut yang terlalu sempit bagi orang-orang lain.” Sedang kalau ia dapat membuat dirinya tidak tampak di mata orang, ada yang meyakini karena ia memiliki kesaksian “ilmu rontek”.